Klaten, Sebanyak 103 warga Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mengalami keracunan makanan usai menghadiri acara hajatan wayang pada Minggu (13/4). Satu orang di antaranya, seorang pria paruh baya, dilaporkan meninggal dunia akibat gejala berat yang dialaminya.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, mengonfirmasi perkembangan jumlah korban yang sebelumnya hanya puluhan orang kini meningkat drastis. “Data terakhir per Senin malam pukul 23.40 WIB tercatat 103 orang mengalami gejala keracunan, dengan satu korban meninggal dunia,” ujar Syahruna saat memberikan pernyataan kepada media, Selasa (15/4).
Sebagian besar korban mengalami gejala serupa, yakni diare akut, muntah-muntah, dan demam tinggi. Dari jumlah tersebut, 31 orang menjalani perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan di Klaten dan Yogyakarta. Para pasien dirujuk ke RS Bagas Waras, RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro, RS Cakra Husada, dan RS Bhayangkara. Lima pasien lainnya menjalani rawat inap di Puskesmas Gantiwarno.
Tim medis bekerja keras menangani para pasien. Petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Klaten turut dikerahkan untuk menangani kasus luar biasa ini. “Kami terus memantau kondisi korban dan berkoordinasi dengan rumah sakit,” ujar seorang petugas medis yang bertugas di lokasi.
Polres Klaten juga bergerak cepat menyelidiki dugaan penyebab keracunan. Dua orang saksi dari pihak penyelenggara hajatan telah dimintai keterangan. Kasat Reskrim Polres Klaten, Iptu Taufik Frida Mustofa, menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalami insiden ini. “Kami fokus pada pengambilan sampel makanan dan keterangan saksi. Belum bisa disimpulkan makanan mana yang menjadi sumber keracunan,” jelas Taufik.
Pakar keamanan pangan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Sari Wulandari, mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat menyelenggarakan acara dengan konsumsi massal. Ia menekankan pentingnya prosedur higienis, mulai dari penyimpanan hingga penyajian makanan. “Suhu dan sanitasi memegang peran penting dalam mencegah kontaminasi bakteri berbahaya,” ungkap Dr. Sari.
Kasus ini menjadi pengingat serius bagi masyarakat dan pemangku kepentingan lokal agar menjadikan keselamatan pangan sebagai prioritas utama, terutama dalam kegiatan komunal. Dinas Kesehatan Klaten menyatakan akan terus melakukan pengawasan dan edukasi untuk mencegah insiden serupa di masa depan.